Toad Jumping Up and Down
Red Spinning Heart Within A Heart

Rabu, 01 Mei 2013

filsafat pendidikan

HUBUNGAN FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu sedangkan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah diangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekola dasar pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti terus terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.
Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari dari induknya. Pada awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.
PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN
Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.
Secara garis besar pengertian pendidikan dapat dibagi menjadi tiga yaitu: a). pendidikan, b). teori umum pendidikan, dan c). ilmu pendidikan.
Pengertian pertama, pendidikan pada umumnya yaitu mendidik yang dilakukan oleh masyarkat umum. Pendidikan seperti ini sudah ada semenjak manusia ada di muka bumi ini. Pada zaman purba, kebanyakan manusia memerlukan anak-anaknya secara insting atau naluri, suatu sifat pembawaan, demi kelangsungan hidup keturunanya. Yang termasuk insting manusia antara lain sikaf melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kempuan menyusu air susu ibu dan merasakan kehangatan dekapan ibu.
Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia. Mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Mendidik bermaksud membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dari kehidupan alamiah menjadi berbudaya. Mendidik adalah membudayakan manusia.
Kedua, pendidikan dalam teori umum, menurut John Dewey pendidikan itu adalah The general theory of education dan Philoshophy is the general theory of education, dan dia tidak membedakan filsafat pendidikan dengan teori pendidikan, atau filsafat pendidikan sama dengan teri pendidikan. Sebab itu ia mengatakan pendidikan adalah teori umum pendidikan.
Konsep di atas bersumber dari filsafat pragmatis atau filsafat pendidikan progresif, inti filsafat pragmatis yang mana berguna bagi manusia itulah yang benar, sedangkan inti filsafat pendidikan progresif mencari terus-menerus sesuatu yang paling berguna hidup dan kehidupan manusia.
Ketiga, ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah cabang ilmu yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan. Masing-masing cabang ilmu pendidikan dibentuk oleh sejumlah teori.
B. FILSAFAT
Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.
Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan yang kritis.
Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi, logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :
1). Metafisika adalah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat dialam ini. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan menurut Callahan (1983) yaitu :
a. Manusia pada hakekatnya adalah spritual. Yang ada adalah jiwa tau roh, yang lain adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jwa dari ikatan semu. Pendidikan adalah untuk mengaktualisasikan diri, pandangan ini dianut oleh kaum Idealis, Scholastik, dan beberapa Realis.
b. Manusia adalah organisme materi.Pandangan ini dianut kaum Naturalis, Materialis, Eksprementalis, Pragmatis, dan beberapa Realis. Pendidikan adalah untuk hidup. Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan menusia menjadi menyenangkan.
2). Epistemologi adalah filfat yang membahas tentang pergaulan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai beikut :
a. ada lima sumber pengetahuan yaitu:
(1). Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedia, buku teks yang baik, rums dan tabel.
(2). Comman sense yang ada pada adat dan tradisi
(3). Intuisi yang berkaitan dengan perasaan
(4). Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengelaman
(5).Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.
b. ada empat teori kebenaran yaitu:
(1). Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsesten dengan kebenaan umum.
(2). Koresponden, sesuatu akan benar bila ia dengan tepat dengan fakta yang jelas.
(3). Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi manfaat bagi kehidupan.
(4). Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.
3). Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan mengemukakan penadapatnya secara tepat.
4). Etika adalah filsafat yang menguaraikan tentang perilaku manusia, Nilai dan norma masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat ini. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan pendidikan untuk mengembangan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta didik.
Junjun (1981) membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang seling berkaitan satu dengan yang lain. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud adalah:
1). Tingkat empiris adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih berdiri sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan yang lain sejenis. Pada tingkat ini wujud ilmu belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi penemuannya karena belum lengkap.
2). Tingkat penjelasan atau teoretis, adalah ilmu yang sudah mengembangkan suatu struktur teoretis. Dengan struktur ini ilmu-ilmu emperis yang masih terpisah-pisah itu dicari kaitannya satu dengan yang lain dan dijelaskan sifat kaitan itu. Dengan cara ini struktur berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu empiris itu menjadi suatu pola yang berarti.
Dari uraian di atas kita sudah berkenalan dengan ilmu empiris berupa simpulan-simpulan penelitian dan konsep-konsep serta ilmu teoretis dalam bentuk teori-teori atau grand theory-grand theory.
Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya filsafat. Sejalandengan proses perkembangan ilmu ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada awalnya pendidikan bersama dengan filsafat sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.
C. HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN PENDIDIKAN
Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.
D. FILSAFAT PENDIDIKAN
Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Ada sejumlah filsafat pendidikan yang dianut oleh bangsa-bangsa di dunia, namun demikian semua filsafat itu akan menjawab tiga pertanyaan pokok sebagai berikut:
1). Apakah pendidikan itu?
2). Apa yang hendak dicapai?
3). Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan itu?
Masing-masing pertanyaan ini dapat dirinci lebih lanjut. Berbagai pertanyaan yang bertalian dengan apakah pendidikan itu, antara lain :
1). Bagaimana sifat pendidikan itu?
2). Apakah pendidikan itu merupakan sosialisasi?
3). Apakah pendidikan itu sebagai pengembangan individu?
4). Bagaimana mendefinisikan pendidikan itu ?
5). Apakah pendidikan itu berperan penting dalam membina perkembangan atau mengarahkan perkembangan siswa?
6). Apakah perlu membedakan pendidikan teori dengan pendidikan praktek?
Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang hendak dicapai oleh pendidikan, antara lain :
1). Beberapa proporsi pendidikan yang bersifat umum?
2). Beberapa proporsi pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu?
3). Apakah peserta didik diperbolehkan berkembang bebas?
4). Apakah perkembangan peserta didik diarahkan ke nilai tertentu?
5). Bagaimana sifat manusia?
6). Dapatkah manusia diperbaiki?
7). Apakah manusia itu sama atau unik?
8). Apakah ilmu dan teknologi satu-satunya kebenaran utama dalam era globalisasi?
9). Apakah tidak ada kebenaran lain yang dapat dianut pada perkembangan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan yang bertalian dengan cara terbaik merealiasi tujuan pendidikan, anatara lain ?
1). Apakah pendidikan harus berpusat pada mata pelajaran atau peserta didik?
2). Apakah kurikulum ditentukan lebih dahulu atau berupa pilihan bebas?
3). Ataukah peserta didik menentukan kurikulumnya sendiri?
4). Apakah lembaga pendidikan permanen atau bersifat tentatif?
5). Apakah proses pendidikan berbaur pada masyarakat yang sedang berubah cepat?
6). Apakah diperlukan kondisi-kondisi tertentu dalam membina perkembangan anak?
7). Siapa saja yang perlu dilibatkan dalam mendidik anak-anak?
8). Perkembangan apa saja yang diperlukan dalam proses pendidikan?
9). Apakah dperlukan nilai-nilai penuntun dalam proses pendidikan?
10). Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu, otoriter, primitif, atau
demokratis?
11). Belajar menekan prestasi atau terpusat pada pengembangan cara belajar dan kepuasan akan hasil belajar?
Menurut Zanti Arbi (1988) Filsafat Pendidikan adalah sebagai berikut.
1). Menginspirasikan
2). Menganalisis
3). Mempreskriptifkan
4). Menginvestigasi
Maksud menginsparasikan adalah memberin insparasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof memaparkan idennya bagaimana pendidika itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu ide-ide ini didasari oleh asumsi-asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara.
Sementara itu yang dimaksud dengan menganalisis dalam filsafat pendidikan adalah memeriksa teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam penyusunan konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancan, umpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demkian ide-ide yang komplek bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan yang jelas, dan alat-alatnya juga dapat ditentukan dengan tepat.
Francis Bacon dalam bukunya The Advencement of Leraning mengemukakan tesis bahwa kebanyakan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia mengandung unsur-unsur valitditas yang bermanfaat dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari, bila pengetahuan itu berisikan dari salah satu konsep yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bacon menggunakan logika induktif sebagai teknik krisis atau analisis untuk menemukan arti pendidikan yang dapat diandalkan. Melalui pengalaman secara kritis dengan logika induktif akan dapat ditemukan konsep-konsep pendidikan.
Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya mejelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan. Yang jelaskan bisa berupa hakekat manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain, aspek-aspek peserta didik yang patut dikembangkan; proses perkembangan itu sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas , target-target pendidikan bila dipandang perlu, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.
Johann Herbart dalam bukunya Scence of education menginginkan agar guru mempunyai informasi yang dapat dihandalkan mengenai tujuan pendidikan yang dapat dicapai dan proses belajar sebelum guru ini memasuki kelas. Pondasi pendidikan yang dikontruksi di atas asumsi yang disangsikan kebenarannya atau di atas tradisi yang masih kabur perlu segera diganti dengan informasi-informasi yang valid. Suatu informasi yang direkonstruksi dari atau secara ilmiah.
Yang dimaksud menginvestigasi dalam filsafat pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan. Pendidikan tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatau konsep atau teori pendidikan untuk dipraktikan dilapangan. Pendidik seharusnya mencari sendiri konsep-konsep pendidikan di lapangan atau melalui penelitian-penelitian. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar pengetahuan saja. Selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasinya, atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai bahan merevisi, agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.
John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyatakan bahwa pengelaman adalah tes terakhir dari segala hal. Mereka memandang pengalaman sebagai panji-panji semua filsafat pendidikan yang mempunyai komitmen terhadap inquiry atau penyelidik. Filosfo berfungsi memilih pengalaman-pengalaman yang cocok untuk memanjukan efisiensi sosial. Filsafat pendidikan berusaha menafsirkan proses belajar-mengajar menurut prosedur pengujian ilmiah dan kemudian memberi komentar tentang nilai atau kemanfaatannya. Filsafat pendidikan mencari konsekuensi proses belajar mengajar, apa yang telah dilakukan, apa kelemahannya, dan bagaimana cara mengatasi kelemahan itu
Para filosof, melalui filsafat pendidikannya, berusaha menggali ide-ide baru tentang pendidikan, yang menurut pendapatnya lebih tepat ditinjau dari kewajaran keberadaan peserta didik dan pendidik maupun ditinjau dari latar gografis, sosologis, dan budaya suatu bangsa. Dari sudut pandang keberadaan manusia akan menimbulkan aliran Perennialis, Realis, Empiris, Naturalis, dan Eksistensialis. Sedangkan dari sudut geografis, sosiologis, dan budaya akan menimbulkan aliran Esensialis, Tradisionalis, Progresivis, dan Rekontruksionis.
Berbagai aliran filafat pendidikan tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori pendidikan yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat pendidikan itu. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat pendidikan juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas ebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.
Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia adalah sebagai berikut :
1). Esensialis
2). Perenialis
3). Progresivis
4). Rekonstruksionis
5). Eksistensialisi
Filsafat pendidikan Esesialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin dikenal dengan nama Great Book.
Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika. Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terarah dengan baik dan logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif, pengajaran terpusat pada guru.
Filsafat pendidikan Perenialis bahwa kebenaran pada wahyu Tuhan. Tentang bagaimana cara menumbuhkan kebenaran itu pada diri peserta didik dalam proses belajar mengajar tidaklah jauh berbeda antara esensialis dengan peenialis. Proses pendidikan meraka sama-sama tradisional.
Filsafat pendidikan Progresivis mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif, apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaan adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini.
Sebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa tercapai melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi pusat pada anak. Untuk mempercepat proses perkembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan dalam pendidikan.
Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Meraka bercita-cita mengkonstuksi kembali kehidupan manusia secara total. Semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru aliran yang ektrim. Ini berupaya merombak tata susunan kehidupan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru sekali, melalui lembaga dan proses pendidikan. Proses belajar dan segala sesuatu bertalian dengan pendidikan tidak banyak berbeda dengan aliran Progresivis.
Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adala eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia didunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas, akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan komitmennya sendiri. (Callahan, 1983)
Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberikesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangkan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri sendiri. Materi pelajaran harus memberikesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.
PENUTUP
Filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Filsafat menjadi sumber dari segala kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga negara dari suatu bangsa.
Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam lingkungan masyarakat dan lingkungan. Ilmu pendidikan yaitu menyelidiki, merenungi tentang gejala-gejalan perbuatan mendidik.
Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu: logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.
Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan. Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat Pendidikan tidak bolah bertentangan dengan filsafat.

Kamis, 04 April 2013

ipa


BAB 6
METODOLOGI ILMU PADA MUMNA :
Abad 19 dan 20

A.           TONGGAK KETIGA : PERKEMBANGAN ABAD KE 19

John Stuart Mill ( 1806 – 1873 ) berusaha merumuskan teknik-teknik indikutif untuk menilai hubungan antara  kesimpulan dengan evidensi atau hal-hal yang menjadi sumbernya. Dalam system of Logic dikemukakan aturan-aturan pembuktian hubungan sebab dan akibat. Filsafat ilm Mill merupakan contoh induktivisme, yaitu sebuah pandangan yang menekankan pentingnya penalaran indktif bagi ilmu. Ia member pernyataan yang sangat tegas dengan tentang penalaran induktif, baik  hubungannya dengan penemuan hukm-hukum ilmiah maupn pembenaran tentang hukum- hukum tersebut.
John Stuart Mill adalah seorang yang berpropaganda efektif dalam penyebaran metode-metode induktif yang dikemukakan oleh Duns Scotus, Ockham, Hume, Herschel, dan sebagainya. Banyak yang menyebut bahwa metode tersebut sebagai metode penyelidikan eksperimental dari Mill. Dia menekankan pada pentingnya metode tersebut dalam penemuan hokum-hukum ilmiah. Ia membahas empat metode induktif, yaitu (1) Metode Persamaan, (2) Metode Perbedaan, (3) Metode Variasi-variasi Konkomitan, dan (4) metode resindu. Adapun ke empat metoda tersebut dinyatakan dalam bentuk bagan-bagan sebagai berikut.
Metoda Persamaan
Kasus
Keadaan-keadaan yang menyebabkan
Gejala
1
ABEF
Abef
2
ACD
Acd
3
ABCE
Afg
Jadi, A mungkin sebab dari a

Metoda Perbedaan
Kasus
Keadaan-keadaan yang menyebabkan
Gejala
1
ABC
a
2
B
-
Jadi, A adalah sebuah bagian yang sangat diperlukan untuk dapat menyebabkan terjadinya a

Metode Variasi-variasi Konkomitan
Kasus
Keadaan-keadaan yang menyebabkan
Gejala
1
A*BC
a+b
2
A°BC
a°bc
3
A¯BC
a-bc
Jadi, A dan a mempunyai  hubungan kuasalitas ( sebab akibat )
Metode Resindu
Kasus
Keadaan-keadaan yang menyebabkan
Gejala
1
ABC adalah sebab dari
abc
2
B adalah sebab dari
b
3
C adalah sebab dari
C
Jadi, A sebab dari a

            John Stuart Mill menegaskan bahwa metode perbedaan merupakan metode terpenting diantara empat metode induksi. Kegunaan metode perbedaan sebagai sebuah metode penemuuan bergantung pada asumsi bahwa semua keadaan yang diteliti mempunyai tingkat yang sama. Karena itu, setiap penyelidikan yang khusus hanya mempertimbangkan sejumlah kecil keadaan. Mill menyatakan bahwa untuk seejumlah besar kasus, skema metode perbedaan adalah memuaskan, sekalipun penyelidikan terbatas pada sejumlah kecil keadaan. Penggunaan metode perbedaan dalam penyelidikan ilmiah memerlukan sebuah hipotesis tentang keadaan-keadaan yang dapat mennjukan kesesuaian dengan peristiwa yang gejalanya dapat diobservasi.
            Pernyataan Mill tentang metode persamaan lebih merendah, ditegaskan bahwa metode persamaan adalah sebuah alat yang berguna untuk penemuan hukum-hukum ilmiah. Tetapi ia mengakui bahwa metode ini terbatas kegunaannya. Salah satu terbatasnya adalah metode ini akan efektif  dalam pencarian hubungan-hubungan kasual, hanya apabila dilaksanakan sebuah inventori yang cermat tentang keadaan-keadaan yang relavan. Apabila keadaan yang relavan dalam setiap kasus terlupakan, pengguna metode persamaan dapat mmenyesatkan peneliti. Oleh karena itu, keberhasilan penggna metode persamaan juga metode perbedaan hanya muungkin apabila berdasarkan hipotesis yang antesenden tentang keadaan-keadaan yang relavan.
            Mill percaya bahwa kemungkinan adanya sebuah kejamakan sebab dapat memberikan kepastian tentang kebenaran kesimpulan yang ditarik dari penggunaan metode perbedaan. Kejamakan sebab tidak hanya tidak mengurangi kepercayaan kemampuan metode perbedaan,  tetapi bahkan tidak mengharuskan perlunya sejumlah besar observasi dan eksperimen. Dua kasus yang satu positif dan yag lainnya negative, sudah cukup uuntuk induksi yang sangat lengkap dan tepat. Oleh karena itu, Mill membagi penyebab yang bersifat jamak menjadi dua kelompok, yaitu : (1) kasus-kasus yang mengadung berbagai sebab yang terus menghasilkan akibat-akibat sendiri-sendiri  secara terpisah attauu Koekstensi bersama dari akibat-akibat yang terpisah-pisah ( Matual Coexsistence of Separate Effects ), dan yang kedua  (2) Kasus-kasus yang mengandung sebuah akibat resultan dari dua macam sebab yang lain dari pada akibat-akibat yang akan dihasilkan oleh sebuah sebab secara terpisah ( Percampuran antar aklibat = Intermixtur of effects). Kelompok kedua di bagi menjadi dua yaitu : (1) Jumlah atau tambahan vektorial dari sebab yang ada, dan (2)  Akibat resultan yang berbeda jenisnya dari beberapa akibat dari sebab-sebab yang terpisah.
            Mill yakin bahwa situasinya menjadi amat berbeda dalam kasus penambahan vektoral dari sebab-sebab  yang ada. Bentuk penyebab jamak ini tidak dapat bertanggung jawabkan keberhasilannya apabila peneliti menggunakan empat macam metode induktif. Mill menyimpulkan bahwa metode-metode induktifnya adalah sia-sia atau tidak berhasil dipergunakan dalam kasus tambahan vektoral dari sebab-sebab yang ada atau penyebab campuran. Oleh karena itu, ia mengusulkan bahwa sebuah metode Deduktif dipergunakan dalam penyelidikan penyebab Campuran.
            Mill mengemukakan tiga tahap dalam menggunakan metode deduktif, yaitu : (1) perumusan seperangkat hukum-hukum, (2) Deduksi atau penjabaran sebuah pernyataan tentang akibat resultan dari sebuah gabungan khusus hukum-hukum tersebut, dan (3) Verifikasi. Sehubung dengan hal ini Mill lebih menyukai bahwa setiap hukum diturunkan atau dijabarkan dari sebuah studi tentang sebab yang relavan, yang bekerja secara terpisah, meskipun ia membolehkan penggunaan hipotesis-hipotesis yang tidak diturunkan oleh gejala. Hipotesis-hipotesis adalah perkiraan-perkiraan tentang sebab yang dapat diharapkan oleh seorang ilmuwan dalam kasus-kasus yang tidak praktis untuk mengusulkan hukum-hukum secara terpisah.
            Mill percaya bahwa verifikasi lengkap untuk menyelidiki penyebab jamak dapat dicapai, meskipun ia sadar bahwa mengeluarkan hipotesis alternative adalah sulit, dan ia sangat berhati-hati  dalam menilai status hipotesis dan teori. Mill mengajurkan bahwa untuk masa yang akan datang, sebuah teori dapat dirumuskan yang menerangkan tidak hanya gejala-gejala yang terjadi sekarang, tetapi juga dapat menyerap dan memancarkan gejala-gejala yang tidak diterangkan oleh teori.
            Mill berpendapat bahwa sebuah tujuan yang penting dari ilmu adalah pembuktian hubungan-hubungan sebab akibat. Ia mendasarkan pembahasan tentang tujuan tersebut pada sebuah analisis tentang posisi hume bahwa hubungan-hubungan sebab akibat tidak ada, tetapi ada konjungsi sekuensial yang tetap antara dua tipe peristiwa. Oleh karena itu, Mill membedakan antara hubungan-hubungan kasual dengan hubungan-hubungan aksidental. Ia menyatakan bahwa sebuah hubungan kasual adalah rangkaian peristiwa yang bersifat tidak berubah –ubah ( invariable )  dan tidak bersyarat ( inconditional ). Karena itu, memperhitungkan kemuungkinan tentang beberapa hubungan yang tetap adalah bkan kasual.
            Mill menuntut bahwa kebenaran hukum tentang penyebab terbentuk dari dasar-dasar empiris, dan ia mengakuui bahwa dalam tnttan tersebuut, ia dihadapkan dengan sebah paradoks. Paradoks tersebt adalah, apabila hukum tentang penyebab ituu akan dibuktikan melalui pengalaman, maka hal itu hars dengan semdirinya menjadi kesimpulan dari sebuah penalaran induuktif. Tetapi setiap penalaran induktif yang membuktikan kesimpulannya memperkirakan kebenaran tentang hukum penyebab.
            Dengan demikian, Mill menyatakan telah meragkan bahwa sebuah penalaran induktif dengan perhitungan sederhana dari premis-premis empiris membuktikan hukum tentang penyebab menjadi sebuah kebenaran yang bersifat mewajibkan. Bahkan apabila Mill dapat membuatpernyataannya menjadi baik bahwa tidak perbah ada sebuah kecuali yang dapat dipercaya untuk hukm tentang penyebab, hal ini tidak akan membuuktikan bahwa hkm tentang penyebab menjadi sebuah kebenaran yang bersifat mewajibkan.
            Pendapat Mill yang induuktivis tentang pola pembenaran segera di tentang oleh Jevons. William Syanley Jevons ( 1835-1882 ) melukiskan sebuah pandangan deduktif -  hipotetico tentang prosedur ilmiah, yang terdiri atas tiga tahap, yaitu :  ( 1) Permusan  tentang sebuah hipotesis dalam sebuah hukum umum, (2) Deduksi akiibat-akibat yang dijabarkan dari hukum, dan (3) perbandingan akibat-akibat tersebut dengan hasil observasi. Jevons menyatakan bahwa untuk membenarkan sebuah hukum umum, seseorang harus mengerjakan dua hal. Pertama, seseorang harus menunjukan bahwa hukum tersebut adalah konsisten dengan hukum –hukum lain yang sudah sangat mantap. Kedua, seseorang hars menunjukan akibat-akibatnya sesuai dengan hasil-hasil observasi. Atas dasar ituu, Jevons menolak pendapat Mill yang menyatakan bahwa pembenaran hukum-hukum adalah dengan pembatasan skema induuktif.
            Dalam kaitanya dengan kasus menerangkan, seseorang mulai dengan sebah pernyataan ttentang sebuah gejala yyang harus diterangkan, dan mengemukakan seperangkat hukum-hukum dan pernyataan-pernyataan tentang kondisi antesenden yang didalamnya terkandung makna pernyataan tentang gejala. Perrnyataan tentang gejala tersebuut memerlukan informasi khusus tenntang keadaan-keadaan yang mendahluinya ( antesenden). Keadaan-keadaan yang atesenden tersbut, baik keadaan-keadaan yang menjadi batas dalam hukum yang dipercaya dapat dipergunakan, maupun keadaan awal yang disadari mendahului gejala yang harus diterangkan atau disadari pada waktu yang sama sebagai gejala yang harus diterangkan. Hempel dan Oppenheim menyatakan bahwa sebuah ukuran tentang aksepstabilitas, sebuah hukum unifersal harus memuaskan adalah prediksi yang dijabarkan dari hukum tersebut mengikuti skema sesuai hasil-hasil obserfasi. Selanjutnya Haempel menekan kan bahwa akseptabilitas dari sebuah hukum bergantung  pada kuantitas, varietas, dan presisi dari evidensi yang di pergunakan. 
            Hempel, Nagel, dan tokoh-tokoh lain nya telah menunjukan bahwa universal-universal aksidental, demikian pula universal-universal asli atau nomologikal dapat berfungsi sebagai premis dalam skema pembenaran deduktif. Misalnya,generalisasi “semua burunggagak adalah hitam”  dapat di benarkan dalam banyak kasus. Dan generalisasi “Semua mata uang yang sekarang ada dalam kantung saya berisi tembaga” , dapat dibenarkan melalui sebah analisis kimia tentang sejumlah tertentu mata uang.   Nagel mengusulkan sejumlah kriteria untuk membedakan universal aksidental. Misalnya, ia mengeluarkan dari kelas universal-universal nomologikal generalisasi – generalisasi, evidensi yang bertepatanata serupa dengan lingkup prediksinya. Selain itu, Nagel menyatakan bahwa lingkup dari sebuah universal nomologikal terbuka untuk tambahan  lebih lanjut. Apabila keyakinan tersebut dijamin, maka sangatlah mungkin bahwa hukum mempunyai duukungan, karena hukum yang sedang dibicarakan mempunyai dukungan teoritis dalam arti mempunyai hubungan dengan baik dengan hukum-hukum lainnya.
Philipp Frank (1884-1966) dalam pembahasan nya tentang kauasalitas, dan berbagai interpretasi tentang mekanika quantum dan teori relatifitas di tandai oleh sebuah tilikan yang tajam dalam metodologi yang di pergnakan secara actual oleh para ilmuan. Philipp Frank menekan kan bahwa “kesesuaian dengan hasil-hasil observasi” dan kesederhanaan adalah persyaratan-persyaratan yang berlawanan. Ia menegaskan bahwa kesesuaian yang sempurna dengan hasil-hasil observasi dapat di capai hanya dengan laporan dalam rangkuman data yg telah di kumpulan. Frank mengakui bahwa konsep kesederhanaan, yang di susun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keindahan atau pertimbangan-pertimbangan heutristik, adalah sebah konsep yang sulit unt mengedepankan bukti-bukti, tetapi ia menekankan bahwa para ilmuan berupaya agar sebah konsep menjadi menarik
Ernets Mach (1838-1916) memberikan sumbangan pada mekanika, akoustika, thermodinamika, psikologi eksperimental, dan pilsafat ilmu, antara lain menyatakan bahwa ilmu hendak nya tertuju pada menyusun sebuah deskripsi yang ekonomis (efisien) tentang hubungan di antara gejala-gejala. Mach mengembangkan sebuah kritik terhadap filsapat ilmu newton yang sejajar dengan kritik yang di lancarkan oleh Berkeley. Ia mengajurkan sebuah prinsip ekonomi sebagai sebuah prinsip yang mengatur daya upaya urusan ilmiah. Ia menyatakan bahwa ilmu sendiri dapat dipandang sebagai sebuah masalah meminimumkan, terdiri dari firasat yang mungkin terlengkap tentang fakta-fakta dengan pengeluaran biaya pemikiran yang sesedikit mngkin atau the last possible expenditure of thought.
Mach menekankan bahwa sebuah cara yang sangat efektif dalam mencapai efisiensi penyajian adalah melalui perumusan teori-teori yang komprehensif dan dengan demikian, hukum-hukum empiris dideduksi atau dijabarkan dan sejumlah kecil prinsip-prinsip umum. Ia jga menyebarkan keyakinan Berkeley bahwa adalah sebuah kesalahan apabila mengasumsikan bahwa konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam ilmu mempunyai kesesuaian dengan apa yang ada dalam alam. Misalnya, ia mengakui bahwa teori-teori tentang atom mngkin dapat berguna untuk memberikan deskripsi tentang gejala tertentu, tetapi hal itu tidak memberikan evidensi tentang adanya atom dalam alam. Mach berusaha merumuskan kembali mekanika Newton dari titik pandang fenomenalis. Dengan jalan mermuuskan kembali mekanika Newton, ia berharap dapat membebaskan mekanika dari spekulasi metafisis tentang gerak dalam ruang dan waktu absolute. Mach menekankan bahwa generalisasi dari hasil perumusan kembalinya itu menjadi berarti secara empiris, hanya apabila prosedur-prosedur dan interval-interval waktu. Menurut Mach interval-interval waktu harus diukur melalui proses fisikal.
Henri Poincare ( 1854-1912 ) member sumbangan pada matematika murni, mekanika angkasa, dan filsafat ilmu yang antara lain menekankan peranan konvensi dalam perumsan teori-teori ilmiah. Apabila sebuah hukum adalah benar secara a piori, hal itu adalah karena telah dinyatakan dalam sebuah cara dengan sedemikian lupa sehingga tidak ada evidensi empiris dapat berlaku terhadapnya. Menurut Poincare, hukum-hukum ilmiah yang bersifat umuum hanyalah konvensi-konvensi yang mengidentivikasikan konsep-konsep ilmiah yang pokok. Hukum-hukum tersebut tidak hanya mempunyai sebuah fungsi yang sah sebagai konvensi-konvensi, tetapi jga mempunyai sebuah fungsi sebagai generalisasi-generalisasi empiris.